Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SALUT ! Brigadir Polisi Tebus Jenazah Kecelakaan di Rumah Sakit Karena Keluarga Tak Punya Uang Untuk Membayar

 Aksi dermawan ditunjukkan oleh Brigadir Heri Ompusunggu. Kanit Laka Polres Samosir, Sumatera Utara ini menebus jenazah korban kecelakaan lalu lintas di Jalan Tele-Dairi yang dirawat 4 hari di Rumah Sakit Sidikalang. 

Korban bernama Walfaret Sihombing (56), buruh tani yang hidupnya nomaden dan ekonomi keluarganya terimbas COVID-19. 

Brigadir Heri mengatakan, kecelakaan lalu lintas antara sepeda motor dengan pejalan kaki pada Minggu malam (3/5). Pihaknya menerima informasi turun ke lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). 



"Dari hasil olah TKP, sepanjang jalan tidak ada lampu jalan. Di situ daerah penduduk tapi tidak banyak. Penerangan pun kurang, katanya, Minggu (10/5).

Kedua korban lalu dibawa ke Rumah Sakit Sidikalang untuk segera ditangani. 

"Karena keadaan korban sudah kritis, dokter sempat membisikkan kepada saya bahwa sudah tidak ada harapan dan meminta keluarga korban dihadirkan," ujarnya.

Ia menjelaskan, tempat tinggal korban berpindah-pindah, sesuai tempatnya bekerja. 

Saat itu, katanya, korban sedang bekerja di Desa Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir. 

"Korban sudah 3 bulan di sana. Pekerjaannya membantu orang yang sedang bertani. Artinya, kerja harian ada ladang orang, ikut kerja lalu dibayar," ungkapnya.

Saat itu keluarga korban tidak bisa ditemukan. Bahkan warga di tempat korban tinggal pun tidak ada yang tahu. Korban tidak memiliki kartu identitas dan hanya berbekal surat keterangan dari Kepala Desa. 

"Kita coba share ke Facebook, mohon bantuan ada korban kecelakaan lalu lintas, keluarga tak ditemukan, keadaan kritis kita kasih foto kita, foto korban, kontak person nomor kita dan dan Kades tempat tinggal saat itu," ujarnya.

Dari postingan tersebut, pihaknya akhirnya menemukan nomor Sekretaris Desa asal korban dan menelfonnya. Sekdes tersebut membenarkan bahwa korban adalah warganya, namun sudah lama tidak tinggal di desanya. 

Dari Sekdes, pihaknya mendapatkan nomor telepon anaknya dan menghubunginya. Namun hingga 3 hari anaknya tidak kunjung datang. 

Ada juga keluarganya dari Sidikalang yang datang hanya sebentar melihat lalu pergi lagi. Dirinya dihubungi pihak rumah sakit agar segera datang dengan alasan kondisi korban sudah kritis. 

Jika diambil tindakan kemungkinan korban akan meninggal dunia, sehingga kehadiran keluarganya sangat penting untuk melihat langsung kondisi korban. 

Pada Kamis (7/5) dirinya dihubungi pihak rumah sakit dan menyatakan korban sudah meninggal dunia. Pihaknya lalu memaksa keluarga korban untuk datang ke rumah sakit. 

"Saya sempat marah. Gimana rasa kemanusiaan kalian. Kau anaknya masak tidak ada respon sama sekali, begitu saya bilang ke anaknya," ungkapnya. 

Keluarga beralasan tidak bisa datang ke rumah sakit karena tidak ada biaya atau ongkos. 

Brigadir Heri menjelaskan, yang berlalu biar berlalu. "Ini korban sudah meninggal, kami serahkan ke keluarga agar dikebumikan di rumah atau di mana terserah keluarga," jelasnya.

Setelah disampaikan, katanya, keluarga korban justru pergi meninggalkannya satu persatu sambil bisik-bisik. 

"Saya panggil kembali, kok seperti ini.  Biar cepat, biar tahu kita mau dibawa kemana. Salah satu wanita menangis dan mengatakan bahwa sudah tahu dari awal keadaan bapak ini sejak kejadian. Alasan mereka tak datang kami tak ada uang," jelasnya. 

Ia mengaku, tanggungan di rumah sakit sudah selesai. Untuk proses hukum tetap ditindaklanjuti. Pengendara motor masih dalam keadaan sakit, namun dipantau dan sepeda motornya diamankan di Polres Samosir. 

"Jadi korban meninggal dunia harus dibawa pulang. Mereka semua malah menangis, bilang tak punya uang. Saya pun iba jadinya," katanya. 

Brigadir Heri memutuskan untuk menebus jenazah korban di rumah sakit agar bisa segera dikebumikan. Namun, masih ada kendala lain, yaitu ambulans dan petinya. Dirinya pun membayarnya sekaligus. 

Brigadir Heri sempat menelfon pimpinannya yang memerintahkan agar mengambil keputusan yang terbaik dan tidak dikomplain. Ia lalu memutuskan untuk membayarkan ke rumah sakit karena merasa iba. 

"Si korban ini sudah lama meninggalkan keluarganya. Sudah kurang perhatian. Makanya saya bilang ke anaknya, apapun ceritanya, dosanya ini tetap bapakmu," katanya. 

Korban pun akhirnya dibawa pulang keluarganya menggunakan ambulans dan dikebumikan di Desa Pagaran, Kecamatan Pagaran, Tapanuli Utara. 

"Medis mengatakan ada benturan hebat di dada, kepala benturan kaki dan tangan patah. Dokter bilang ini mukjizat bisa bertaha  hidup sampai 4 hari," jelasnya. 

Pihaknya juga sudah menyampaikan kepada keluarga korban, akan membantu proses administrasi agar dari Jasa Raharja bisa keluar kepada istri atau anaknya.

Sementara itu, pengendara sepeda motor sudah pulang ke rumahnya dan menjalani pengobatan tradisional di Desa Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

"Hasil analisa kita, saat itu sepeda motor yang dikendarai melaju dengan kecepatan di atas 100 km per jam dan menabrak korban," pungkasnya.

sumber : kumparan.com

Posting Komentar untuk "SALUT ! Brigadir Polisi Tebus Jenazah Kecelakaan di Rumah Sakit Karena Keluarga Tak Punya Uang Untuk Membayar"