Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

INNALILAHI ! Bayi Malang Yang Sengaja Dicovidkan Rumah Sakit Hembuskan Nafas Terakhirnya Karena Dilarang Dokter Untuk Operasi


Bayi Khayra yang viral di media sosial lantaran dugaan dicovidkan RS Pirngadi mengembuskan nafas terakhirnya.

Kabar sarat duka ini diuarkan via media sosial atas akun @nisaabilla, yang menuliskan, 

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un. 

Telah berpulang ke Rahmatullah anak kami Khayra Hanifah Al Magfirah pagi ini pukul 07:40. 

Alamat rumah duka Jl Jangka Gg. Sehat No 44 C. Mohon doanya agar anak kami Husnul Khatimah.



Sebelumnya, RSUD Pirngadi kembali diterpa isu miring terkait buruknya pelayanan kesehatan.

Rumah sakit yang menjadi salah satu ikon kota Medan tersebut diduga mengcovidkan pasiennya.

Keluarga pasien, Annisa pun menceritakan persoalan tersebut kepada Tribun Medan melalui saluran telepon, Rabu (9/21).

Dia menjelaskan awalnya anaknya yang masih bayi tersebut mendapat rujukan dari RS Stella Maris ke RSUD Pirngadi pada Senin (7/21) malam, sekitar pukul 22.00 WIB.

Saat itu anaknya mengantongi surat negatif Covid-19 berdasarkan Tes Swab di RS Stella Maris.

Namun ketika anaknya mau dioperasi Selasa (8/6/2021) sekitar pukul 18.30 WIB, ia tersentak mendekatkan kabar dari tenaga medis RSUD Pringadi yang mengatakan anaknya reaktif atau terpapar Covid-19.

Hasil terpapar itu pun berangkat dari Tes Antibodi yang dilakukan pihak RSUD Pringadi dan disampaikan secara lisan.



Rasa curiganya pun muncul secara simultan.

Sebab, sejak anaknya dimasukkan ke ruangan untuk dirawat, dari awal masuk sampai sore hari, ia tidak ada kontak secara langsung.

Selain itu, Annisa mengaku selalu berada di depan ruangan anaknya dirawat, kecuali saat tengah malam sampai subuh karena harus istirahat.

"Aku stay (tetap berjaga) di depan ruang anakku mulai pagi. Tapi aku juga tidak melihat anakku ada di Tes Antibodi. Bahkan pihak suster juga tidak ada yang permisi ke aku," sebutnya.

Suster pun mengatakan anaknya akan dipindahkan ke ruangan pasien Covid-19 baru dioperasi.

Dia pun memberontak.

Sempat terjadi percekcokan.

Annisa sangat tidak terima anaknya dikatakan positif Covid-19.

Ia pun melayangkan pertanyaan kepada dokter yang bertugas soal mana yang lebih akurat antara hasil Tes Swab Antigen yang didapatnya dari rumah sakit sebelumnya dengan Rapid Antibodi yang dilakukan RSUD Pringadi.

"Dibilang dokter itu, ya benar lebih akurat Tes Swab Antigen. Tapi tetap berdalih bahwa itu hasil laboratorium terbaru sehingga menjadi rujukan," ujarnya.

"Kalau pun positif berarti dari suster. Karena yang kontak langsung dengan anakku cuma suster. Kalau saya tantang di sini susternya semua di Swab apakah kalian berani? Artinya suster itulah yang tularkan kalau dibilang anak saya Covid-19," lanjutnya.

Setelah diucapkannya seperti itu, para suster dan dokter pun berdalih lain-lain demi mempertahankan status pasien agar tetap positif Covid-19.

Sewaktu itu juga, ia pun langsung menelepon Wakil Ketua DPRD Medan Rajudin Sagala untuk mengadukan persoalan tersebut.

Kemudian, Rajudin pun, dikatakannya, menelepon Direktur RSUD Pirngadi.

Terakhir Direktur memerintahkan susternya untuk melakukan Tes Swab Antigen kepada pasien sebelum operasi.

Saat suster mau melakukan Swab Antigen, Annisa pun mempertanyakan segel alatnya.

Kemudian suster tersebut menunjukkan alat Swab Antigen yang masih tersegel.

Terakhir, hasil dari Swab Antigen itu pun pasien dinyatakan negatif.

Anaknya pun akhirnya akan dioperasi di ruang bukan untuk pasien Covid-19 sekitar pukul 22.00 WIB.

Dengan penuh kekhawatiran karena kondisi anaknya yang cukup memperihatinkan, Annisa dan keluarga pun menunggu proses medis.

Menunggu di depan ruang operasi dari pukul 22.00 WIB - 00.30 WIB, Annisa dikagetkan pula dengan kabar bahwa anaknya tidak bisa dioperasi.

Alasan pihak RSUD Pirngadi karena tidak tersedianya alat medis untuk melakukan operasi.

Emosinya pun tidak terbendung menyasar para medis yang bertugas.

"Lah, kenapa alatnya tidak dipersiapkan dulu sebelum operasi. Kemudian yang menjadi soalnya kenapa anak saya kan masuk ruang operasi pukul 22.00 WIB - 00.30 WIB. Nah itu ngapain? Apa mereka diskusi lagi di dalam, mau operasi atau enggak," sebutnya dengan nada yang teramat kesal.

Sampai ia katakan, apakah karena pihaknya berobat dengan gratis makanya dipermainkan sedemikian rupa.

Ia pun mempertanyakan masa tidak ada infus dari rumah sakit yang lain.

"Sampai saya bilang telpon rumah sakit Adam Malik, kalau ada selang ini di sana, maka saya yang ambil. Tidak apa-apa. Kalau enggak pindahkan anak saya ke sana sekarang. Itu kubilang sama mereka," ujarnya.

Namun, ternyata satu per satu dokter pergi dan hanya tinggal manajemen kepala ruangan yang bertugas saat itu.

Pihak manajemen itu menjelaskan pihak RSUD Pirngadi telah menelpon seluruh rumah sakit bahwa alat infus tersebut memang kosong sehingga tidak melakukan operasi.

"Ya manager itu menjelaskan selang infusnya ukuran nomor tiga yang dibutuhkan dan tidak ada," katanya.

Di dalam benaknya sampai saat ini memendam kepiluan bercampur amarah.

Karena menurutnya tidak wajar, sejak pagi hari sudah dikatakan oleh pihak RSUD Pirngadi mau operasi tetapi ujung-ujungnya perlengkapan medisnya tidak mencukupi.

Hal yang memilukan lagi, laporan terkait anaknya yang terpapar Covid-19 atau pun tidak, juga tidak diberikan oleh pihak RSUD Pirngadi.

Pihak rumah sakit mengatakan kalau mau mendapatkan laporan tersebut harus menahan data keluarga pasien berupa KTP dan KK.

Bahkan saat ia meminta hasil diagnosa anaknya juga tidak diberikan.

Padahal hasil itu diperlukan jika ingin pindah ke rumah sakit lain agar tidak melalui beragam tes lagi.

"Itu sampai-sampai kami hanya minta fotokopi hasil diagnosa aja. Untuk hasil Tes Swab dan Antibodi juga engga bisa. Kami minta difoto pun tidak boleh, padahal sebelumnya dibilang tidak apa-apa," katanya.

"Mereka bilang kalau mau ambil data tanpa tahan identitas harus panjar Rp 2.150.000. Ya masa kami harus keluarkan uang untuk lembaran kertas laporan itu. Karena kesal, kami pulanglah," lanjutnya.

Sampai saat ini, Annisa mengaku trauma berobat ke rumah sakit pemerintah.

Namun mirisnya, ia belum mampu membawa anaknya berobat ke rumah sakit swasta.

Sebab, biaya operasi yang tentunya capai puluhan sampai ratusan juta..

Kondisi yang dialaminya kini teramat menjepitnya, di samping sebagai orangtua yang tidak tahan melihat anaknya menahan rasa sakit.

Kini, bayi yang masih berusia 23 hari itu terbaring di rumahnya dengan perawatan ala kadarnya.

Tiada obat yang diberikan dari rumah sakit.

Anaknya mengidap penyakit tidak bisa buang air besar.

Sehingga harus melakukan operasi di bagian perutnya.

Kendati mendapatkan pelayanan yang tidak menyenangkan dari RSUD Pirngadi, Annisa mengaku tidak ingin membawa persoalan ini ke mana-mana dan pasrah terhadap keadaan yang ada.

Annisa pun berpesan dan berharap kepada seluruh pegawai RSUD Pirngadi untuk diajarkan jujur karena sudah disumpah sebagai dokter dan suster bahkan untuk pelayanan bukan administrasi didahulukan.

"Semoga kejadian yang saya alami tidak terjadi terhadap pasien lainnya," harapnya.

sumber : medan.tribunnews.com

Posting Komentar untuk "INNALILAHI ! Bayi Malang Yang Sengaja Dicovidkan Rumah Sakit Hembuskan Nafas Terakhirnya Karena Dilarang Dokter Untuk Operasi"